Tanggapan Darurat Longsor Cisarua Tidak Diperpanjang Kepala BNPB: Situasi Terkendali
Table of content:
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, menyatakan bahwa penanganan tanggap darurat bencana longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, berlangsung selama 14 hari. Setelah periode tersebut, upaya pemerintah akan berfokus pada rehabilitasi dan pemulihan bagi para korban yang terdampak bencana tragis ini.
Peristiwa longsor tersebut terjadi pada tanggal 24 Januari 2026, dan memasuki hari kelima penanganannya. Hingga saat ini, tercatat sekitar 80 orang dilaporkan hilang, menambah keprihatinan masyarakat terhadap situasi ini.
Sebagian korban yang hilang telah ditemukan dalam kondisi meninggal, sementara pencarian terus dilakukan untuk menemukan sisanya. Wilayah yang terkena dampak longsor mencakup Kampung Pasirkuning, Pasirkuda, dan Cibudah di Desa Pasirlangu.
Suharyanto menyatakan bahwa meskipun status darurat hanya berlaku selama 14 hari, pencarian terhadap korban hilang dapat dilanjutkan berdasarkan permintaan dari keluarga. Hal ini menunjukkan komitmen BNPB untuk memenuhi harapan keluarga yang kehilangan.
“Target kami adalah menyelesaikan tanggap darurat dalam dua minggu tanpa perpanjangan, melihat kondisi di lapangan. Insya Allah, semua bisa kembali pulih dan terkendali,” ungkap Suharyanto. Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat mulai mendata korban sebagai persiapan untuk proses relokasi dan pemulihan pascabencana.
Langkah-Langkah Penanganan Tanggap Darurat Setelah Longsor Terjadi
Pemerintah setempat mengambil langkah konkret untuk menangani situasi darurat yang dihadapi. Selain pencarian korban, mereka juga berupaya menyediakan kebutuhan dasar bagi para pengungsi yang terpaksa meninggalkan rumah mereka.
Tim penanggulangan bencana yang terdiri dari berbagai instansi dikerahkan untuk mempercepat proses evakuasi dan penyelamatan. Koordinasi antara pihak-pihak terkait menjadi sangat penting untuk memastikan tidak ada korban yang terlewat dalam pencarian.
Suharyanto menegaskan komitmen BNPB untuk terus mendukung upaya pemerintah daerah dalam menangani bencana ini. Mereka berusaha agar semua bantuan dapat disalurkan dengan cepat dan tepat sasaran.
Di lapangan, tim relawan yang terdiri dari warga setempat juga berperan aktif dalam membantu proses pencarian dan penyelamatan korban. Partisipasi masyarakat menjadi salah satu kekuatan dalam menangani bencana seperti ini.
Aksesibilitas ke lokasi bencana pun menjadi perhatian. Upaya perbaikan infrastruktur dan pembukaan jalur transportasi diharapkan dapat mempercepat penyaluran bantuan logistik kepada para korban yang membutuhkan.
Pentingnya Rehabilitasi dan Pemulihan Pasca-Bencana
Setelah masa tanggap darurat berakhir, perhatian akan beralih ke rehabilitasi dan pemulihan. Ini adalah langkah krusial untuk membantu masyarakat kembali ke kehidupan normal. Proses ini tidak hanya mencakup perbaikan fisik, tetapi juga dukungan psikologis bagi para korban.
Pemerintah berencana untuk memberikan bantuan kepada korban yang kehilangan tempat tinggal. Ganti rugi dan pembangunan kembali rumah menjadi salah satu prioritas utama agar mereka dapat kembali berdomisili dengan aman.
Selain itu, program pemulihan ekonomi juga akan diperkenalkan untuk membantu masyarakat yang kehilangan mata pencarian. Memberikan pelatihan keterampilan baru dan akses ke pembiayaan adalah bagian dari strategi pemulihan yang komprehensif.
Suharyanto menyampaikan bahwa pihaknya akan berkolaborasi dengan berbagai lembaga untuk memastikan pemulihan berlangsung optimal. Kerjasama ini diperlukan agar dampak bencana dapat diminimalisir dan masyarakat dapat bangkit kembali dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Partisipasi masyarakat dalam proses rekonstruksi juga sangat dibutuhkan. Dengan melibatkan mereka, pemulihan akan lebih terarah dan sesuai dengan kebutuhan yang ada di lapangan.
Pentingnya Kesadaran Masyarakat Terhadap Bencana Alam
Pendidikan tentang kebencanaan menjadi aspek penting yang harus diperhatikan oleh semua pihak. Masyarakat perlu mendapatkan pemahaman yang baik mengenai risiko bencana dan cara menghadapinya. Kesadaran akan bencana dapat membantu mengurangi jumlah korban dan kerugian yang ditimbulkan.
Melalui program sosialisasi yang dilakukan oleh BNPB dan pemerintah setempat, masyarakat diharapkan dapat lebih siap menghadapi bencana yang mungkin terjadi di masa depan. Pengetahuan tentang evakuasi, titik aman, serta tindakan yang harus diambil bisa menyelamatkan nyawa.
Pembentukan relawan kebencanaan di setiap desa dan kelurahan juga perlu didorong. Relawan ini akan menjadi jembatan antara pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi bencana.
Secara keseluruhan, upaya mitigasi harus menjadi prioritas agar kejadian seperti longsor di Desa Pasirlangu tidak terulang. Dari penanganan darurat, rehabilitasi, hingga pendidikan tentang kebencanaan, semua harus dilakukan secara terintegrasi.
Dengan cara ini, diharapkan warga masyarakat menjadi lebih tanggap dan protektif terhadap diri mereka sendiri serta lingkungan sekitar dalam menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin tidak menentu.











