Evaluasi Sopir Mobil SPPG Pasca Insiden di SDN Jakut
Table of content:
Badan Gizi Nasional (BGN) baru-baru ini melakukan kajian menyeluruh terkait mekanisme operasional kendaraan yang digunakan untuk distribusi Makan Bergizi Gratis (MBG). Evaluasi ini bertujuan untuk memastikan seluruh aspek berjalan dengan aman dan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan, termasuk prosedur pergantian pengemudi bila pengemudi utama tidak bisa hadir.
“Kedeputian Sistakol BGN harus mengkaji mekanisme penunjukan pengemudi pengganti dalam situasi darurat. Seluruh pihak harus dapat bergerak cepat dan efisien untuk mengatasi masalah yang mungkin muncul selama tugas,” ujar Wakil Kepala BGN Bidang Operasional Pemenuhan Gizi, Sony Sanjaya, dalam siaran persnya.
Langkah evaluasi ini diambil pasca-insiden kecelakaan yang melibatkan mobil SPPG, yang menjadi pengantar untuk MBG dan menerobos halaman SDN Kalibaru 01, Cilincing, Jakarta Utara, saat aktivitas sekolah berlangsung. Kecelakaan tersebut mengakibatkan puluhan siswa serta guru mengalami luka-luka dan harus mendapat perawatan medis.
Aspek Keselamatan dalam Operasional Distribusi Makanan
Untuk menangani insiden tersebut, BGN memastikan bahwa semua korban mendapatkan perawatan medis terbaik di rumah sakit terdekat. “Kami telah menjamin semua korban mendapatkan perhatian dan perawatan yang dibutuhkan dengan penuh empati,” kata Sony.
Dari sudut pandang keamanan dan tanggung jawab, BGN menjelaskan bahwa penanganan perkara sepenuhnya dialihkan kepada Ditlantas Polda Metro Jaya. Dalam hal ini, BGN berkomitmen untuk mendukung semua proses hukum yang berlaku sesuai peraturan yang ada.
Keputusan pihak sekolah untuk menghentikan kegiatan belajar sementara diambil agar siswa yang masih trauma bisa mendapatkan waktu untuk pulih. “Kami melakukan komunikasi aktif dengan orang tua untuk memastikan kesejahteraan siswa,” ungkap Sony.
Prosedur dan Standar Operasional yang Harus Ditegakkan
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Dapur Makan Bergizi Gratis Indonesia, Abdul Rivai Ras, menekankan pentingnya kepatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP). Meski insiden ini diberi label sebagai kesalahan manusia, dampak yang ditimbulkan sangat besar, terutama di lingkungan sekolah.
Abdul menegaskan bahwa evaluasi mendalam terkait SOP sangat diperlukan agar kejadian serupa tidak terjadi lagi di masa depan. “Kegagalan ini bukan pada program MBG itu sendiri, melainkan pada pelaksana yang tidak mematuhi SOP yang ada,” jelasnya.
Penting bagi BGN dan semua mitra pelaksana untuk menetapkan standar kualifikasi yang ketat bagi pengemudi logistik. Setiap pengemudi yang terlibat dalam distribusi makanan harus terdaftar dan diverifikasi oleh pihak SPPG.
Keterangan Mengenai Sopir Pengganti dalam Kecelakaan
Dalam penjelasan lebih lanjut, Kepala BGN Dadan Hindayana mengungkapkan bahwa sopir yang terlibat dalam kecelakaan adalah sopir pengganti. Kendati demikian, pengemudi tersebut merupakan pegawai SPPG dan telah beberapa kali menggantikan sopir utama dalam menjalankan tugasnya.
“Sopir pengganti ini bukan orang baru dan sudah beberapa kali menjalani tugas ini, jadi kami akan melakukan investigasi lebih lanjut mengenai apa yang sebenarnya terjadi,” tambah Dadan ketika menjenguk korban di RSUD Koja.
Insiden tersebut terjadi ketika mobil SPPG harus melewati halaman SDN 01 Kalibaru dan secara tidak sengaja menabrak sejumlah siswa yang sedang beraktivitas. Meskipun menyebabkan puluhan orang terluka, tidak ada korban jiwa dilaporkan dalam peristiwa ini.








