Festival Bakmi Kembali ke Jakarta dengan 25 Penjual Terkurasi
Table of content:
Festival kuliner yang ditunggu-tunggu akhirnya kembali digelar setelah lima tahun mati suri, menyajikan pengalaman gastronomi yang tak terlupakan. Festival Bakmi Tirta Lie diselenggarakan di Citywalk Gajah Mada, Jakarta, dari 5 hingga 7 Desember 2025, mengajak pengunjung untuk merasakan cita rasa yang sudah dikenal luas.
Acara ini merupakan bagian dari rangkaian roadshow yang mencakup delapan kota dan menjadi momen nostalgia bagi inisiator Tirta Lie. Dengan konsep baru dan penekanan pada pengalaman bersantap yang lebih elegan, festival ini diharapkan membawa sensasi berbeda bagi para pencinta kuliner.
Di dalam festival ini, kita akan menemukan lebih dari 25 pedagang bakmi yang terkurasi dengan cermat. Mereka adalah perwakilan dari beragam cita rasa yang telah melalui proses seleksi yang ketat, memastikan hanya yang terbaik yang dapat tampil di acara ini.
Konsep Baru dan Inovasi di Festival Bakmi Tirta Lie
Tirta Lie menawarkan konsep “Festival Rasa Restoran,” yang menonjolkan keaslian pengalaman bersantap. Ia menghilangkan penggunaan peralatan makan sekali pakai yang seringkali mengurangi kenyamanan saat menikmati makanan.
Dengan membawa peralatan makan asli seperti piring, mangkok, sendok, dan garpu, pengunjung diharapkan merasakan pengalaman yang mendekati bersantap di restoran. Setiap suapan seolah mengajak kita untuk menjelajahi rasa yang lebih dalam.
Tirta menambahkan bahwa dengan konsep ini, pengunjung akan merasakan kepuasan yang lebih dari sekadar menikmati makanan. Pengalaman bersantap yang lebih “manusiawi dan mewah” ini diharapkan memberikan dampak positif bagi citra festival kuliner di Indonesia.
Pedagang dan Kualitas Rasa yang Dihadirkan
Pesta kuliner ini menyajikan 25 pedagang bakmi yang telah terkurasi, terdiri dari delapan tenan halal dan 17 non-halal. Setiap pedagang telah mendapatkan sertifikasi “Tirta Lie Approved,” yang merupakan tanda sejauh mana kualitas rasa mereka diakui.
Proses seleksi yang ketat ini menjamin bahwa setiap pedagang memiliki komitmen terhadap konsistensi rasa. Dengan berbagai pilihan yang ada, pengunjung dijamin bisa menemukan bakmi sesuai selera mereka, mulai dari yang paling tradisional hingga yang lebih inovatif.
Penghargaan yang diberikan oleh Tirta bukan hanya sekadar pengakuan, melainkan juga merupakan upaya untuk menjaga objektivitas penilaian. Dengan tidak adanya biaya untuk mendapatkan predikat tersebut, fokus utama tetap pada kualitas rasa dan pengalaman konsumen.
Penerimaan dan Antusiasme Pengunjung terhadap Festival
Sejak dibuka, festival ini sudah menarik perhatian banyak pengunjung dari berbagai kalangan, menggugah rasa ingin tahu mereka terhadap kuliner bakmi. Antusiasme yang terlihat di lokasi menunjukkan betapa besar keinginan masyarakat untuk menikmati festival ini kembali.
Pengunjung tidak hanya datang untuk makan, tetapi juga untuk merasakan nostalgia dari acara yang sudah terkenal ini. Dengan suasana yang hangat dan ramah, festival tampaknya menciptakan momen-momen berharga bagi para pencinta makanan.
Melalui berbagai kegiatan dan talkshow yang diadakan selama festival, pengunjung juga dapat mendapatkan wawasan lebih dalam tentang sejarah dan cara pembuatan bakmi. Ini menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka yang ingin memahami lebih jauh tentang masakan ini.
Membangun Tradisi Kuliner yang Lebih Kuat di Indonesia
Festival Bakmi Tirta Lie bukan hanya sekedar ajang menikmati makanan, tetapi juga upaya untuk membangun tradisi kuliner yang lebih kuat di Indonesia. Dengan menghadirkan berbagai pedagang dan bersikap inklusif terhadap berbagai jenis bakmi, festival ini mendukung keberagaman kuliner di tanah air.
Tirta Lie berharap melalui festival ini, lebih banyak orang dapat menghargai kualitas rasa dan teknik pembuatan bakmi. Ini adalah langkah penting dalam melestarikan tradisi kuliner yang sudah ada sejak lama.
Festival ini juga dapat menjadi ajang bagi generasi muda untuk belajar dan terinspirasi dalam dunia kuliner, membuka peluang baru bagi mereka yang ingin terjun ke industri makanan. Dengan demikian, festival ini bukan hanya memperkuat warisan kuliner, tetapi juga mempersiapkan masa depan yang cerah.









