Ketua Apeksi Tanggapi Apkasi tentang Masalah Gaji Rendah dan Korupsi
Table of content:
Ketua Umum Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia, Eri Cahyadi, memberikan tanggapan yang tegas terhadap pernyataan dari Ketua Umum Apkasi, Bursah Zarnubi. Dalam diskusi tersebut, Bursah mengungkapkan bahwa rendahnya gaji merupakan faktor pendorong bagi kepala daerah untuk melakukan korupsi. Eri, yang juga Wali Kota Surabaya, menilai bahwa jabatan sebagai kepala daerah adalah amanah yang seharusnya dipahami secara komprehensif oleh para calon pemimpin.
Menurut Eri, setiap individu yang ingin menjadi kepala daerah seharusnya sudah menyadari besaran gaji yang diterima. Ia mempertanyakan mengapa seseorang masih ingin mencalonkan diri jika mengetahui gaji yang ditawarkan tergolong rendah. Dalam pandangannya, jabatan tersebut tidak hanya sekadar soal pendapatan, tetapi juga soal tanggung jawab dan integritas.
“Jika mereka memahami bahwa gaji kepala daerah rendah, pertanyaannya adalah, kenapa masih tetap mencalonkan diri?” ujarnya dengan nada serius. Eri mengingatkan agar para calon pemimpin tepat dalam mempertimbangkan keputusan sebelum menjabat.
Pentingnya Memahami Tanggung Jawab Sebelum Menjadi Pemimpin
Eri Cahyadi menekankan bahwa jabatan kepala daerah adalah sebuah tanggung jawab yang berat. Ia berpendapat bahwa tidak seharusnya ada yang menjadikan rendahnya gaji sebagai alasan untuk melakukan tindakan korupsi setelah menjabat. Keputusan untuk menjadi pemimpin harus berlandaskan pada motivasi yang kuat dan integritas yang tinggi.
Dalam pandangannya, motivasi untuk memimpin tidak seharusnya digerakkan oleh faktor finansial semata. Eri menjelaskan bahwa jika seseorang merasa tidak mampu mencukupi kebutuhan hidup dengan gaji yang ada, lebih baik untuk tidak mendaftar sebagai kepala daerah. Hal ini penting agar para pemimpin fokus pada tugas utama mereka dalam melayani masyarakat.
“Kita semua tahu bahwa bagi banyak orang, tidak ada yang cukup dari sisi pendapatan. Tetapi jika kamu merasa tidak sanggup dengan gaji yang ada, sebaiknya pikirkan ulang untuk mencalonkan diri,” ungkapnya. Pesan ini ditujukan untuk calon pemimpin di masa mendatang agar melakukan introspeksi sebelum mengambil langkah besar.
Tantangan dan Kebutuhan Penyesuaian Gaji Kepala Daerah
Meski memiliki pandangan tegas, Eri tak menafikan bahwa ada kebutuhan untuk meninjau kembali sistem penggajian para kepala daerah. Ia mengakui bahwa walaupun daerah memiliki kapasitas fiskal yang berbeda-beda, mereka tetap harus memahami struktur penggajian sejak awal. Kesepakatan di antara wali kota yang tergabung dalam Apeksi menunjukkan keinginan untuk meningkatkan kesejahteraan para pemimpin daerah.
“Ada kesepakatan di dalam Apeksi tentang hal ini. Oleh karena itu, para kepala daerah harus memahami betul gaji yang mereka terima,” lanjutnya. Eri menyatakan bahwa kejelasan mengenai penggajian dapat membantu menghindari masalah di kemudian hari.
Namun Eri juga menegaskan bahwa usulan untuk penyesuaian gaji kepada pemerintah pusat tidak dilatarbelakangi oleh ketidakcukupan. Ia percaya bahwa pertimbangan yang lebih penting adalah melihat tanggung jawab dan beban kerja yang diemban oleh para pemimpin daerah tersebut。
Penyebab Korupsi di Kalangan Kepala Daerah
Kasus dugaan korupsi yang melibatkan sejumlah kepala daerah telah menjadi sorotan publik belakangan ini. Ketua Umum Apkasi, Bursah Zarnubi, baru-baru ini membahas kasus Bupati Pati yang terjerat masalah hukum. Menurutnya, insiden semacam ini menjadi indikasi bahwa perlu adanya perubahan untuk memberantas praktik korupsi di kalangan pejabat daerah.
Bursah juga mengungkapkan keinginannya untuk meminta tambahan anggaran kepada Menteri Dalam Negeri agar kepala daerah tidak tertarik untuk melakukan korupsi. Ini mengisyaratkan bahwa rendahnya gaji dapat mendorong beberapa individu untuk mengambil jalan pintas, meskipun itu adalah tindakan ilegal.
“Saya pernah meminta tambahan anggaran agar para bupati bisa terhindar dari jeratan hukum. Hal ini menunjukkan perlunya perhatian lebih terhadap isu ini,” jelas Bursah. Ia meyakini bahwa anggaran yang lebih baik akan berkontribusi pada pengurangan angka korupsi di tingkat pemerintahan.
Kesimpulan dan Harapan untuk Peningkatan Integritas
Menjadi kepala daerah bukan hanya soal gaji, tetapi juga tentang dedikasi dan komitmen. Baik Eri Cahyadi maupun Bursah Zarnubi sepakat bahwa untuk mengatasi masalah korupsi, perlu ada penyadaran kolektif di kalangan para pemimpin daerah. Setiap individu yang ingin memimpin harus didorong untuk menempatkan integritas di atas segalanya.
Pentingnya memiliki pemimpin yang jujur dan bertanggung jawab menjadi kunci untuk membangun kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Edukasi dan kesadaran akan tanggung jawab ini harus ditanamkan sejak awal kepada semua calon pemimpin daerah.
Ke depan, semoga ada inisiatif dari pihak berwenang untuk mereformasi penggajian dan memberikan dukungan lebih kepada kepala daerah, demi terciptanya pemerintahan yang bersih dan berintegritas. Dengan demikian, diharapkan praktik korupsi dapat diminimalisir dan pelayanan kepada masyarakat dapat ditingkatkan.









