Marah-Marah Terus Bisa Tingkatkan Tekanan Darah, Ini Penjelasan Ahli
Table of content:
Pernahkah Anda merasa bahwa kemarahan yang sering meledak bisa berdampak buruk bagi kesehatan? Penelitian menunjukkan bahwa emosi negatif seperti marah dapat memicu berbagai masalah kesehatan fisik yang serius jika tidak dikelola dengan baik.
Ketika kita merasa marah, tubuh sebenarnya mengalami perubahan fisiologis yang signifikan. Proses ini melibatkan berbagai reaksi kimia yang dapat menjadikan kemarahan sebagai faktor risiko penyakit.
Berbagai studi telah menunjukkan bahwa marah berkepanjangan tidak hanya memengaruhi kesehatan mental, melainkan juga dapat mengarah pada masalah fisik. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami dampak kemarahan pada tubuh agar bisa lebih bijaksana dalam mengelola emosi ini.
Dampak Emosional dan Fisiologis Serta Hubungannya dengan Kesehatan
Kemarahan berkepanjangan berdampak langsung pada kesehatan mental seseorang. Emosi negatif yang tidak disalurkan dengan baik dapat memicu stres kronis, yang berhubungan dengan gangguan kecemasan atau depresi.
Saat marah, tubuh kita akan melepas hormon stres yang mengubah fungsi normal organ tubuh. Sebagai contoh, detak jantung meningkat dan pernapasan menjadi lebih cepat, yang dapat mengganggu keseimbangan tubuh.
Selain itu, marah juga dapat menyebabkan gangguan tidur. Ketika seseorang terus-menerus merasa marah, kualitas tidur mereka akan menurun, sehingga mempengaruhi daya tahan tubuh dan memicu berbagai penyakit.
Pengaruh Jahat Kemarahan Terhadap Sistem Peredaran Darah
Kemarahaan yang berkepanjangan dapat memengaruhi sistem kardiovaskular secara negatif. Ketika emosi ini tidak bisa dikelola, tingkat tekanan darah dapat meningkat, membuat jantung bekerja lebih keras.
Dari waktu ke waktu, peningkatan tekanan darah ini dapat menyebabkan risiko penyakit jantung. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang yang sering merasa marah lebih rentan terhadap serangan jantung dibandingkan mereka yang lebih tenang.
Sebagian besar dari kita mungkin tidak menyadari bahwa setiap kali marah, kita menghirup lebih banyak oksigen. Hal ini menciptakan ketegangan pada otot-otot tubuh dan dapat menyebabkan masalah seperti sakit kepala atau nyeri dada.
Kemampuan Marah dan Respon Biologis yang Mengikutinya
Secara biologis, kemarahan adalah respons terhadap situasi yang dianggap mengancam. Hal ini berkaitan erat dengan mekanisme “fight or flight” yang dipicu di dalam tubuh untuk melindungi diri.
Ketika kita dalam keadaan marah, kerja kelenjar adrenal akan meningkat, yang menyebabkan produksi hormon stres mendorong tubuh untuk bersiap menghadapi ancaman. Inilah yang menyebabkan jantung berdegup kencang dan perasaan cemas.
Namun, jika respons ini terjadi terlalu sering, dapat menyebabkan kelelahan fisik dan mental. Akibatnya, kesehatan kita dapat terganggu dalam jangka panjang.








