Silaturahmi Mustasyar PBNU Menurut Rais Syuriyah Tak Bisa Batalkan Pleno
Table of content:
Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Mohammad Nuh, menegaskan bahwa agenda rapat pleno yang telah direncanakan pada Selasa mendatang tetap akan dilaksanakan. Dalam pernyataannya, ia menghormati berbagai masukan yang telah disampaikan oleh Mustasyar PBNU, yang berlangsung dalam silaturahmi di Pesantren Tebuireng baru-baru ini.
Pertemuan tersebut melibatkan beberapa tokoh kunci dan memberikan saran untuk tidak menggelar agenda rapat pleno terkait penetapan Pj Ketum. Namun, Mohammad Nuh berkomitmen untuk tetap melakukan rapat sesuai dengan mekanisme organisasi yang ada.
Lebih lanjut, Nuh menjelaskan bahwa meskipun masukan dari Mustasyar sangat diapresiasi, keputusan harus tetap mengacu pada prosedur organisasi. Rapat pleno yang direncanakan ini diharapkan dapat berjalan dengan lancar, mencerminkan proses pengambilan keputusan yang transparan.
Rapat Pleno PBNU: Menyelamatkan Keputusan Organisasi
Dalam pernyataannya, Nuh menggarisbawahi pentingnya mengikuti mekanisme yang telah ditetapkan, termasuk proses pengambilan keputusan yang dilakukan melalui rapat pleno. Hal ini sesuai dengan ketentuan yang ada dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga NU.
Ia berpendapat bahwa saran dari Mustasyar adalah bagian dari upaya kolektif untuk mengarahkan organisasi. Namun, ia menekankan bahwa keputusan akhir tetap berada di tangan pengurus, mengingat tugas dan tanggung jawab yang mereka emban.
Ketua PBNU Bidang Pendidikan, Hukum, dan Media Mukri juga menambahkan bahwa agenda rapat pleno sepenuhnya legal dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Mukri menjamin bahwa semua undangan untuk rapat telah mengikuti prosedur yang ada di internal NU.
Protes dan Perselisihan di Kalangan Kiai Sepuh
Meski ada klarifikasi itu, sejumlah kiai sepuh, yang tergabung dalam Forum Sesepuh & Mustasyar, melanjutkan diskusi mengenai konflik internal di PBNU. Dalam pertemuan mereka di Pondok Pesantren Tebuireng, pun diungkapkan adanya kekhawatiran terkait pelanggaran yang diduga dilakukan oleh Ketua Umum PBNU saat ini.
Salah satu anggota forum, KH Oing Abdul Muid, menyampaikan bahwa pelanggaran serius perlu mendapatkan klarifikasi dari pihak terkait. Hal ini menunjukkan adanya keinginan untuk menjaga integritas organisasi dan mendorong transparansi dalam pengambilan keputusan.
Namun, meskipun kritik tersebut muncul, Gus Muid menegaskan bahwa upaya untuk memakzulkan Ketua Umum harus sesuai dengan aturan organisasi yang sudah ada. Ini menunjukkan adanya kerumitan dalam menavigasi tak hanya isu internal tetapi juga kekuatan tradisi dalam NU.
Pentingnya Musyawarah dalam Mengatasi Masalah Internal
Forum Sesepuh merekomendasikan agar rapat pleno untuk menetapkan Pj Ketua Umum tidak diadakan sampai seluruh prosedur dan musyawarah diselesaikan. Ini menandakan penekanan pada pentingnya musyawarah di antara anggota untuk mempertahankan keharmonisan dan menciptakan keputusan yang diambil secara kolektif.
Dalam konteks ini, Gus Muid mengingatkan pentingnya menjaga ketertiban organisasi. Penyelesaian masalah internal diharapkan dapat dilakukan melalui jalur yang telah disepakati, sehingga tidak membawa NU ke dalam konflik yang lebih luas.
Pesan ketenangan ini ditujukan kepada seluruh anggota untuk tidak terprovokasi dan mempertahankan kekompakan. Langkah-langkah yang diambil untuk menyelesaikan masalah seharusnya mengutamakan angan terhadap stabilitas organisasi.
Kesimpulan: Memelihara Kewibawaan NU di Tengah Tantangan
Dalam menghadapi segala dinamika ini, penting bagi seluruh pihak untuk menyadari bahwa Nahdlatul Ulama adalah aset besar bangsa yang perlu dijaga kewibawaannya. Gus Muid mengajak semua pihak untuk kembali pada nilai-nilai inti yang selama ini menjadikan NU sebagai organisasi yang dihormati.
Melalui kerjasama dan kebersamaan, diharapkan setiap tantangan dapat diatasi tanpa menciptakan ketegangan lebih lanjut. Penanganan masalah internal yang bijak akan menciptakan fondasi yang kuat bagi masa depan NU.
Kesinambungan dan komitmen untuk menyelesaikan segala permasalahan dengan musyawarah diharapkan menjadi jalan yang dipilih oleh pengurus dan anggotanya. Dengan cara ini, NU dapat terus berkontribusi positif bagi masyarakat dan bangsa.









