Wisata Guci Tegal Kembali Terkena Banjir, Kolam dan Jembatan Terhancur
Table of content:
Kawasan wisata alam Guci di Kabupaten Tegal menghadapi bencana alam yang cukup parah, di mana banjir bandang telah menerjang area tersebut. Dampak dari bencana ini sangat merugikan, karena kolam air panas yang menjadi daya tarik utama hancur, dan jembatan-jembatan penting di lokasi tersebut putus total.
Pada tanggal 24 Januari, dikhawatirkan kerusakan yang ditimbulkan banjir bandang ini dapat mengganggu sektor pariwisata setempat. Konsekuensi dari peristiwa alam ini tidak hanya menghancurkan infrastruktur, tetapi juga mengakibatkan kerugian bagi masyarakat sekitar yang bergantung pada mata pencaharian di sektor wisata.
Dari laporan, pancuran kolam air panas di kawasan wisata ini rata dengan tanah, dan kerusakan yang terjadi berkisar dalam kategori serius. Banyak warga yang terdampak akibat bencana ini merasa cemas akan masa depan pariwisata Guci yang selama ini menjadi kebanggaan daerah mereka.
Situasi Terkini Pasca Banjir Bandang di Guci
Menurut M. Wisnu Imam, anggota Satgas Penanggulangan Bencana dari BPBD Kabupaten Tegal, banjir bandang yang disebabkan oleh Kali Gung mengakibatkan kerusakan besar. Pancuran 13 hancur total, dan jembatan besar yang menghubungkan area wisata juga roboh akibat derasnya arus air.
Jembatan gantung yang biasa dilalui pengunjung di Pancuran Lima tidak luput dari bencana ini. Kejadian ini menunjukkan kondisi darurat yang harus segera ditangani oleh pemerintah dan pihak terkait agar dapat memulihkan kawasan wisata tersebut.
Warga desa setempat mengungkapkan bahwa mereka merasakan dampak langsung dari banjir tersebut. Banyak yang kehilangan mata pencaharian, dan hal ini memerlukan perhatian khusus agar dapat pulih kembali dan membangun kembali infrastruktur yang hancur.
Reaksi Masyarakat Terhadap Banjir yang Melanda Kawasan Wisata
Taufiq, seorang warga dari desa Guci, menceritakan bagaimana situasi mendesak terjadi saat banjir bandang mulai mendekat. Ia mendengar suara gemuruh dari hulu sungai yang menjadi pertanda bahwa bencana akan segera terjadi.
Setelah mendengarkan suara tersebut, Taufiq dan warga lainnya berusaha mencari tempat aman. Namun, air datang begitu cepat dan menggenangi area tersebut dengan sangat cepat.
Dengan tingginya air mencapai sekitar tujuh meter, kemungkinan untuk menyelamatkan infrastruktur sangat kecil. Jembatan yang biasa dilalui wisatawan tidak mampu menahan derasnya arus yang membawa material lumpur dan pasir, sehingga roboh dan tidak ada sisa.
Upaya Penanggulangan Bencana dan Pemulihan Wilayah Terdampak
Pemerintah setempat segera turun tangan untuk melakukan penanganan pasca-banjir. Tim penanggulangan bencana berusaha memberikan bantuan darurat kepada warga yang terkena dampak, termasuk mengedukasi mereka mengenai langkah-langkah keamanan.
Selain itu, mereka juga mengadakan rapat untuk mendiskusikan strategi pemulihan jangka panjang. Ini penting agar infrastruktur dan fasilitas di kawasan wisata dapat segera diperbaiki dan dikembalikan ke fungsi semula.
Pemulihan pasca-banjir menjadi tantangan besar, terutama dalam hal pengembalian minat pengunjung untuk kembali ke Guci. Banyak yang berharap, dengan upaya ini, pariwisata akan pulih dan dapat berfungsi seperti sedia kala.








