Kata-kata Alissa Wahid Terkait Konflik PBNU pada Haul Gus Dur
Table of content:
Alissa Wahid, putri dari Abdurrahman Wahid yang dikenal dengan sebutan Gus Dur, baru-baru ini membahas masalah internal yang tengah dihadapi oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Ia mengungkapkan pendapatnya dalam acara haul ke-16 mendiang Gus Dur di Ciganjur, Jakarta Selatan, yang dihadiri oleh banyak tokoh dan kader NU.
Dalam kesempatan tersebut, Alissa menekankan pentingnya para pemimpin NU untuk kembali merenungkan warisan mulia yang telah ditinggalkan oleh Gus Dur. Menurutnya, situasi saat ini menunjukkan bahwa konsesi tambang dari pemerintah telah menjadi sumber konflik dalam tubuh PBNU.
Alissa mencatat bahwa Gus Dur selalu mengajarkan nilai-nilai kebangsaan dan kepedulian kepada masyarakat dan meminta para pemimpin NU untuk tetap fokus pada kesejahteraan bangsa. Hal ini diungkapkannya sebagai pengingat bagi seluruh kader NU untuk tidak melupakan tujuan mulia organisasi tersebut.
Persoalan Internal yang Menghantui PBNU
Konflik internal di PBNU berawal dari rekomendasi Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, yang meminta Gus Yahya untuk mengundurkan diri dari posisi ketua umum. Rekomendasi ini muncul setelah rapat harian di Jakarta yang dihadiri oleh mayoritas pengurus harian Syuriyah PBNU.
Keputusan untuk meminta pengunduran itu kini mengundang banyak pertanyaan dari para kader NU. Banyak yang merasa khawatir bahwa kekacauan ini bisa berujung pada perpecahan yang lebih besar di dalam tubuh organisasi yang selama ini dikenal solid.
Dalam rapat pleno yang berlangsung baru-baru ini di Hotel Sultan Jakarta, diputuskan untuk menunjuk Zulfa Mustofa sebagai Penjabat Ketua Umum PBNU hingga Muktamar 2026. Namun, keputusan ini tidak diterima oleh Gus Yahya yang tetap bersikukuh sebagai ketua umum yang sah.
Rekomendasi dan Rapat Pleno yang Dipertentangkan
Rekomendasi yang dikeluarkan oleh Rais Aam tersebut merupakan hasil diskusi yang mendalam dari para kiai dan pengurus harian. Namun, penyampaian secara terbuka ini menuai pro kontra yang signifikan di kalangan pengurus dan kader NU.
Hasil rapat pleno yang diadakan di Hotel Sultan menegaskan penetapan Zulfa Mustofa, dan ini menjadi sebuah keputusan yang kontroversial. Beberapa elemen di organisasi NU merasa keputusan ini sepatutnya tidak diambil dalam suasana mendesak tanpa melibatkan suara yang lebih luas.
Gus Yahya, di sisi lain, merasa bahwa langkah-langkah tersebut menggusur legitimasi yang seharusnya tetap menjadi miliknya. Ia mempertanyakan apakah proses yang dijalankan oleh PBNU sudah sesuai dengan tradisi dan mekanisme organisasi yang selama ini dipegang.
Harapan untuk Masa Depan NU dan Keseimbangan Kekuatan
Di tengah segala gejolak ini, Alissa Wahid menegaskan kembali pentingnya NU untuk berfungsi sebagai penjaga keseimbangan kekuasaan. Ia mengingatkan bahwa organisasi ini harus selalu berada di posisi yang kritis terhadap penguasa, demi bangsa dan umat.
Menurut Alissa, ajaran Gus Dur menekankan bahwa pemimpin NU harus selalu berpikir tentang kepentingan rakyat dan tidak terjebak dalam pertikaian internal yang merugikan. Ajaran tersebut harus kembali diimplementasikan agar NU tetap relevan dengan dinamika yang ada.
Ia sangat berharap agar para pemimpin NU dapat menjaga keharmonisan dan kembali berfokus pada program-program yang dapat membawa manfaat langsung kepada masyarakat. Keberpihakan pada kepentingan rakyat adalah fondasi yang harus dipertahankan oleh setiap kader NU.








